Dulu gue tipe orang yang tiap notifikasi muncul langsung sambar HP. Apalagi sekarang punya bayi. Rasanya tuh kayak harus selalu tahu apa yang terjadi di luar sana. Takut ketinggalan info, takut nggak siap. Padahal bayi gue tidurnya udah susah, eh gue malah sibuk scroll berita sambil nungguin dia merem.
Suatu malam, jam dua pagi, gue nangis sambil nyusuin. Bukan karena drama apa-apa, tapi karena baca berita soal bencana sambil kepala penuh pikiran "gimana kalau itu terjadi ke anak gue". Istri gue liat, terus dia cuma bilang, "Kamu tuh udah kayak robot yang diisi berita terus."
Baca juga: Dinamika Politik 2024: Apa yang Berubah dan Apa yang Tetap
Kalimat itu nyantol. Besoknya gue coba satu eksperimen kecil: sebulan nggak baca berita kayak biasanya. Bukan berarti nggak peduli sama dunia, tapi gue ubah total cara gue nyerap informasi. Dan hasilnya? Jujur aja, gue nggak nyangka se-signifikan ini.
Minggu Pertama: Rasanya Kayak Ditarik dari Kabel
Hari pertama sampai ketiga tuh absurd. Tangan gue otomatis buka aplikasi berita tiap kali lagi nungguin susu anget. Kayak ada yang kosong gitu. Gue sempat panik, "Jangan-jangan gue jadi orang tua yang nggak update, nanti anak gue tanya soal dunia, gue nggak bisa jawab."
Padahal ya, bayi gue baru tiga bulan. Paling dia tanya soal susu.
Tapi ada satu momen yang bikin gue sadar. Hari keempat, gue lagi gendong anak gue, dan dia liatin muka gue lama banget. Mata bunder itu fokus ke gue, bukan ke layar HP. Gue ngerasa aneh, sekaligus hangat. Ternyata selama ini, tiap dia liatin gue, mata gue lebih sering ke bawah, ke HP.
Yang paling gue sesalin bukan berita yang gue baca. Tapi momen-momen kecil yang gue lewatin sambil mikirin berita itu.
Perubahan yang Beneran Kerasa Setelah Sebulan
Oke, ini bagian yang mungkin kamu tunggu. Apa aja sih yang berubah? Gue jabarin satu-satu, jujur, tanpa bumbu.
1. Tidur Jadi Lebih Waras
Ini perubahan paling kerasa. Dulu gue bisa scroll berita sampai jam satu pagi, kepala penuh drama politik dan konflik dunia. Sekarang gue ganti dengan baca satu artikel panjang aja per hari, atau dengerin podcast sambil nyetrika. Hasilnya, gue tidur lebih cepet dan bangun nggak seseram dulu. Buat orang tua baru, tidur itu barang mewah. Jadi ya, ini bukan perubahan kecil.
2. Emosi Lebih Stabil di Depan Anak
Gue nggak nyangka ini efeknya. Ternyata baca berita negatif terus-terusan bikin gue gampang kesel. Nangis bayi yang biasanya cuma bikin panik, jadi bikin gue ikut emosi. Setelah sebulan ngurangin asupan berita sensasional, gue ngerasa lebih sabar. Istri gue juga bilang gitu. Katanya gue sekarang "nggak gampang meledak".
Padahal gue cuma berhenti baca judul-judul yang bikin dada sesak tiap pagi.
3. Ngobrol Sama Pasangan Jadi Lebih Hidup
Dulu topik obrolan gue sama istri seringnya soal berita. "Eh tau nggak, ada ini..." Sekarang, karena gue nggak nyerap berita tiap jam, obrolan kami geser ke hal-hal kecil. Soal anak, soal rencana weekend, soal mimpi aneh semalam. Kedengeran sepele, tapi hubungan kami kerasa lebih deket. Kayak balik lagi jadi manusia, bukan dua orang yang saling lempar link.
Yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Ikutan Coba
Gue nggak mau ngegambarin ini semua indah. Ada juga sisi ribetnya. Gue sempat ketinggalan info soal jadwal vaksin anak karena nggak baca grup dan portal berita lokal. Jadi gue akalin: gue tetap cek satu sumber berita kredibel, cukup sekali sehari, jam yang sama. Nggak lebih.
Kuncinya bukan berhenti total. Kuncinya milih apa yang masuk ke kepala kamu. Buat gue, ini yang berubah:
- Gue nggak buka berita pas lagi sama anak. HP ditaruh di meja, bukan di tangan.
- Gue pilih satu sumber, bukan lima aplikasi yang notifikasinya rebutan.
- Gue matiin notifikasi berita. Semua. Nggak ada pengecualian.
- Gue ganti waktu scroll pagi dengan baca satu artikel panjang sambil sarapan.
- Kalau ada berita besar, gue sengaja nunggu sehari baru baca. Biar nggak kebawa emosi awal.
Oh iya, satu lagi. Gue sempat ngerasa bersalah karena "nggak peduli sama kondisi negara". Tapi setelah dipikir, peduli itu bukan soal seberapa cepat gue tahu. Peduli itu soal apa yang gue lakuin setelah tahu. Dan gue sadar, jadi orang tua yang tenang dan hadir buat anak juga bentuk kontribusi, walau kecil.
Buat Kamu yang Lagi di Fase Ini
Kalau kamu orang tua baru dan ngerasa kepala penuh terus, coba deh eksperimen kecil ini. Nggak perlu sebulan langsung. Mulai dari tiga hari aja. Matiin notifikasi berita, taruh HP agak jauh pas main sama anak, dan liat apa yang berubah.
Mungkin kamu bakal ngerasa aneh di awal, kayak ada yang kurang. Tapi lama-lama, kamu bakal sadar bahwa yang selama ini "kurang" itu bukan beritanya. Tapi kehadiran kamu sendiri.
Gue nggak bilang berhenti peduli sama dunia. Gue cuma bilang, kadang dunia bisa nunggu. Anak kamu nggak bisa.